Desa Pembuat Buah Tangan Jogja

Inilah Desa Pembuat Buah Tangan Jogja

Ada beberapa beberapa tempat bagus yang dapat kamu datangi waktu liburan ke Jogja yaitu Desa Pembuat Buah Tangan.

Tidak cuma memiliki beberapa tempat dengan keelokan alam seperti Gunung Merapi, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya.

Desa Pembuat Buah Tangan Jogja

Wilayah yang ini memiliki segudang beberapa tempat yang hasilkan beberapa barang kerajinan yang bisa saja tujuan kamu liburan ke Yogyakarta.

Berikut 5 wilayah Desa Pembuat Buah Tangan ciri khas Yogyakarta yang dapat kamu datangi waktu berlibur kelak.

  1. Dusun Manding

Dusun rekreasi Manding Bantul adalah dusun rekreasi sentra kerajinan kulit. Jadi jika di Bandung ada Cibaduyut, di Jogja ada Manding.

Baca Juga: Ingin Hilangkan Penat Ke Beach Club

Pertama kali kerajinan kulit tampil seputar tahun 1947 yang diprakarsai oleh 3 orang pemuda. Awalannya ke-3 nya adalah pegawai di perusahaan kulit yang menghasilkan baju dan pelana.

Sampai pada akhirnya mereka memiliki inisiatif untuk buka usaha sendiri. Sampai sekarang, telah ada lebih dari 100 pengrajin kulit yang berada di dusun Manding. Pecinta kerajinan kulit dari dusun manding inipun telah memasuki sampai luar negeri.

Di sejauh jalan, bisa banyak diketemukan beberapa rumah warga yang sekalian berperan selaku showroom hasil kerajinan. Harga yang dijajakan juga cukup dapat dijangkau dan dapat ditawar tambah murah kembali.

Dusun Rekreasi Manding benar-benar gampang dijangkau sebab posisinya yang ada di jalan khusus Jogja-Parangtritis km 11. Kelak bakal ada gapura masuk yang tertulis MANDING dan dari sana telah masuk posisi dusun rekreasi Manding.

  1. Dusun Krebet

Dusun Krebet secara administratif ada di Dusun Sendangsari, Kecamatan Pajangan, atau seputar 12 km dari Kota Yogyakarta. Posisi dusun Krebet berdekatan dengan Goa Selarong, satu goa sebagai saksi bisu perjuangan Pangeran Dipenogoro.

Kayu yang dipakai untuk media membatik yakni kayu mahoni, klepu, dan sengon yang ada banyak ada di daerah Bantul. Beberapa hasil kerajinan batik kayu diantaranya kedok batik kayu, wayang, patung, frame cermin, gantungan kunci, dan beberapa souvenir yang lain. Harga juga beragam dimulai dari 1500 rupiah sampai hasil kerajinan bernilai juta-an rupiah.

Waktu bertandang ke Dusun Krebet, janganlah lupa mencicip bermacam kulineran ciri khas tradisionilnya.

Di sini sediakan homestay-homestay yang dapat dipakai untuk beberapa pelancong yang pengin bermalam dan mengenali lebih jauh kehidupan Dusun Krebet. Harga? Sudah pasti benar-benar dapat dijangkau dibanding dengan pondokan-penginapan yang berada di kota.

  1. Dusun Gamplong

Dusun rekreasi yang berada di samping barat Kota Yogyakarta ini cukup memikat buat disinggahi pelancong ditambah sebab masih ada industri kerajinan tenun tradisionil dengan memakai Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Dengan ATBM, warga perajin Gamplong sanggup hasilkan kain tenun selaku bahan stagen (kain panjang untuk melilit sisi perut wanita). Kecuali kerajinan tenun, perajin sanggup menghasilkan kerajinan anyaman untuk cenderamata.

Tidak cuman populer dengan ATBM-nya, Dusun Rekreasi yang teletak di Jl. Raya Wates Yogya Km 14 ini populer dengan kreasi masyarakatnya yang sanggup manfaatkan eceng gondok, lidi kelapa, mendong, dan akar harum yang sampai jadi beberapa produk spesial yang memiliki jual bahkan juga export. Produk yang dapa mereka menghasilkan berbentuk tas, dompet, aksesories wanita, tirai, tikar, dan lain-lain.

Usaha dan kekuatan mereka biasanya didapat secara turun temurun dari nenek moyang mereka.

Bermacam jenis kerajinan yang dibuat oleh dusun Gamplong ini, diantaranya :

  • Kerajinan bahan tenun hasilkan stagen (ikat pinggang wanita dari kain panjang) dan lap
  • Kerajinan anyaman yang dari eceng gondok, lidi kelapa, mendong, dan akar harum yang hasilkan bermacam jenis kerajinan misalnya: bermacam jenis souvenir, pengerjaan tas, dompet, accessories wanita, tirai, tikar, dan sebagainya.
  1. Dusun Kasongan

Kabupaten Bantul memang dikenali selaku pusat kerajinan di propinsi Yogyakarta. Banyak UKM-UKM di Bantul yang beroperasi di sektor kerajinan. Salah satunya sebagai simbol hasil kerajinan kabupaten Bantul ialah gerabah yang sentranya ada di Kasongan.

Kasongan secara administratif ada di Dusun Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta atau memiliki jarak lebih kurang 7 km menuju selatan Kota Yogyakarta. Benar-benar gampang untuk berkunjung Kasongan. Dari Jalan Bantul langsung ke selatan sampai jumpa gerbang Kasongan berbentuk gapura besar yang dijepit dua patung kuda. Di sejauh jalan, bisa banyak diketemukan showroom-showroom yang memperlihatkan bermacam hasil kerajinan dari gerabah, seperti keramik guci, pot bunga, terra cotta, air mancur, loro blonyo, patung Buddha dan kerajinan gerabah yang lain.

Riwayat Kasongan berawal dari matinya satu ekor kuda punya reserse Belanda di tanah punya seorang masyarakat. sebab takut dijatuhkan hukuman oleh Belanda yang waktu itu tengah menjajah Indonesia, dia juga mengikhlaskan pemilikan hak tanahnya dan laganya itu dituruti oleh beberapa masyarakat yang mengikhlaskan pemilikan hak tanah mereka. Selanjutnya, beberapa tanah itu diambil pindah oleh masyarakat dusun lain. Warga yang lain tidak mempunyai tanah pada akhirnya mengawali aktivitas baru yakni memproses tanah liat jadi mainan dan perlengkapan dapur.

kecuali langsung bisa pilih dan menawar harga gerabah yang diharapkan, pelancong bisa juga langsung berkunjung workshop untuk saksikan secara langsung bagaimanakah cara pemrosesan gerabah dari tanah liat sampai mendapatkan hasil akhir berbentuk kerajinan gerabah.

Dusun Rekreasi Kasongan berada di pedukuhan Kajen, Dusun Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

  1. Kotagede

Posisi pengrajin perak ada nyaris di tiap pojok Kotagede, Yogyakarta. Dimulai dari pasar Kotagede sampai Mushola Agung dan sisa Istana Mataram Islam. Selanjutnya, kerajinan peraklah yang berkembang.

Produksi kerajinan perak Kotagede telah di-export ke luar negeri khususnya Eropa. Beberapa barang itu berbentuk beberapa benda kepentingan rumah tangga orang Eropa seperti tempat lilin, perlengkapan minum dan makan, dan perhiasan style Eropa dengan pola tradisionil Kotagede.

Seni kerajinan perak Kotagede tampil bertepatan dengan Kerajaan Mataram Islam pada era ke-16. Selanjutnya di periode pemerintah Sultan Hamengku Buwono VIII, beliau benar-benar terpikat dengan keelokan kerajinan logam ini selanjutnya memerintah abdi dalam kriya untuk melanjutkan dan meningkatkan seni kerajinan logam itu.

Salah satunya perusahaan pengrajin perak di Kotagede ialah Bapak dan Ibu Harto Suhardjo, yang benar-benar sangat ketarik dengan perhiasan hingga buka toko pertama kalinya bernama “Jelas Bulan” di tahun 1950.

Upayanya menghasilkan perhiasan perak yang unik-unik. Sekian tahun selanjutnya, nama upayanya beralih menjadi HS Silver, yang disebut inisial namanya. HS Silver tawarkan perhiasan memiliki motif Jawa. Di tahun 1975, mereka buka cabang pertama kalinya di Denpasar, Bali

Pola kerajinan perak Kotagede umumnya bercorak beberapa tumbuhan, pola daun dan bunga teratai. Keunikan yang masih dipertahankan ialah pembuatan produksi kerajinan secara manual dengan masih memercayakan keterampilan tangan. Baik kerajinan perak lurusan atau kerajinan perak filigri (seutas kawat perak tipis diputuskan satu-satu dan dirangkai demikian rupa untuk mendapatkan wujud yang diinginkan) ditangani dengan penuh kecermatan. Beberapa kembali membutuhkan proses yang lain, misalkan dengan lewat proses pembakaran untuk mendapatkan perak bakar yang banyak juga disukai

Nah, itu banyak daerah pemroduksi kerajinan tangan yang dapat kamu datangi waktu ada di Yogyakarta. Janganlah lupa selalu untuk patuhi prosedur kesehatan waktu melancong di luar rumah ya.